Blog

ANTROPOLOGI DALAM ARSITEKTUR

Di dalam ilmu arsitektur, Antropologi Arsitektur dipergunakan sebagai salah satu cabang ilmu pembelajaran yang mempelajari tentang segala aktivitas, kebudayaan dan tingkah laku atau perilaku manusia. Arsitektur adalah ilmu merancang dan membangun yang berkaitan dengan bangunan dan teknologi bahan, namun kita tidak boleh melupakan bahwa yang menghuni bangunan tersebut adalah manusia. Jadi kita merancang suatu bangunan untuk ditinggali oleh manusia yang menghuni dan manusia tersebut harus merasa nyaman dan aman untuk tinggal dalam bangunan tersebut agar desain kita bisa dikatakan berhasil. Kita tidak bisa merancang suatu bangunan hanya berdasarkan pada kemajuan teknologi bangunan saja, menggunakan bahan modern yang hebat dan mudah digunakan tanpa pernah memperhatikan unsur vital dalam bangunan itu sediri, dalam hal ini manusia yang tinggal didalamnya.

Mempelajari antropologi arsitektur akan sangat berguna dalam proses perancangan, hal ini disebabkan kita dapat menggunakan antropologi arsitektur sebagai komponen dan bahan pertimbangan tambahan dalam merancang suatu bangunan. Jadi kita mendapat tambahan elemen untuk dipertimbangkan selain yang sudah biasa kita gunakan seperti, besaran ruang, studi bentuk, kajian teori, dan hal – hal lainnya. Selain itu hasil rancangan kita juga akan lebih humanisme dan nyaman untuk ditinggali. Dengan dipelajarinya antropologi arsitektur, maka kita dapat menciptakan suatu desain yang berwawasan manusia dan mewujudkan bangunan yang ekologis seperti yang ditekankan pada Pola Ilmiah Pokok Unika Soegijapranata. Diharapkan dengan semakin berkembangnya kemajuan jaman, manusia tidak semakin maju dari segi teknologi saja, tapi juga maju dari segi kebudayaan. Dengan makin banyaknya desain yang berwawasan kebudayaan dan humanisme, maka diharapkan dapat tercipta pula lingkungan yang ekologis dan bangunan yang nyaman dan ramah lingkungan.

Manusia sebagai kajian dari antropologi adalah sebagai objek yang dipelajari baik sebagai individu ataupun kelompok. Dalam perkembangan manusia, naungan adalah hal pertama yang dibuat oleh manusia jauh sebelum mereka mengenal api. Naungan atau tempat tinggal sementara pada jaman pra sejaraha adalah hasil karya insting manusia yang butuh tempat terlindung dari segala ganguan dari cuaca atau problem alam lainnya. Moore and Allen menjelaskan bahwa manusia hidup dalam ruang yang tidak terbatas. Arsitektur memotong atau membatasi ke-“tidak terbatas”-an ini, sehingga memberi makna bagi kegiatan manusia yang berlangsung di dalamnya.

Rapaport mengungkapkan bahwa arsitektur bermula sebagai tempat bernaung. Oleh karena itu banyak anggapan di masyarakat bahwa arsitektur adalah sesuatu yang berhubungan dengan bangunan sebagai tempat tinggal. Pada awalnya arsitektur lebih terkait kepada bangunan, terutama bangunan untuk tempat tinggal yang masih banyak dipengaruhi oleh adat, sehingga pembuatannya banyak memasukkan unsur adat. Kemudian dengan semakin majunya zaman, maka hasil karya arsitektur semakin bermacam-macam bentuknya. Berdasarkan kamus, kata arsitektur (architecture), berarti seni dan ilmu membangun bangunan. Menurut asal kata yang membentuknya, yaitu Archi = kepala, dan techton = tukang, maka architecture adalah karya kepala tukang. Arsitektur dapat pula diartikan sebagai suatu pengungkapan hasrat ke dalam suatu media yang mengandung keindahan

Antropologi selajutnya memberikan tafsiran yang dapat dipakai oleh para arsitek dalam membaca perubahan tata ruang, nilai/symbol/makna estetika dari karya arsitektur (meening/deep meening dari manusia yang akan menempati ruang). Antropologi Arsitektur berdasarkan pada penilaian estetika dari sebuah ruang/bangunan.Analisisnya ditujukan ke masalah-masalah:

  1. Konsep-konsep ruang dan kelanjutannya,
  2. Perilaku membangun, hunian dan pemukiman, dalam memandang kondisi-kondisi keberadaan manusia

Antropologi Arsitektur dalam hal ini berperan menganalisis aspek-aspek sosial-budaya dalam pembangunan-penggunaan sebuah karya arsitektur. Selama ini Teknik Arsitektur (Arsitektur murni) hanya melihat aspek fisiknya saja.

Apabila dilihat dari proses yang terjadi, maka tahap gagasan merupakan awal terjadinya proses ber-arsitektur tersebut. Proses diawali oleh gagasan melalui tindakan hingga akhirnya terbentuk hasil karya fisik. Sehingga sedikit perubahan yang terjadi pada tahap gagasan berarti akan terjadi perubahan pula pada karya akhirnya. Namun demikian, keberadaan konsep estetika sebagai wujud gagasan yang abstrak selalu dipengaruhi oleh pengalaman masing-masing individunya maupun pengalaman kolektif yang dialami kelompok masyarakat tertentu. Pengalaman ini meliputi: pengembangan kepercayaan terhadap kekuasaan dan kekuatan yang lebih tinggi; hubungan sosial dengan orang atau kelompok lain; ekspresi kepribadian individual kepada lingkungan masyarakat di sekitarnya; mengupas makna-makna yang dapat diterima oleh lingkungan (Mulder, 1975, dalam Koentjaraningrat, 2005).

Pengalaman yang berbeda-beda antar individu akan menghasilkan perbedaan dalam rumusan bentuk estetika masing-masing. Dalam sebuah kelompok masyarakat, perbedaan rumusan bentuk estetika tercermin dalam sistem nilai kebudayaannya. Hal ini yang akan menentukan munculnya berbagai gaya dalam arsitektur. Perbedaan gaya dalam karya arsitektur yang terjadi antar daerah dan waktu disebabkan karena adanya perbedaan rumusan bentuk estetika masingmasing. Perbedaan dalam rumusan bentuk estetika, sekaligus akan menggambarkan kondisi pengalaman yang diterima oleh masyarakat.

Oleh karena itu, “karya arsitektur” dalam sebuah masyarakat dapat menjadi alat untuk membaca kondisi pengalaman dan sistem nilai kebudayaan dalam masyarakat tersebut. Sebaliknya, gagasan mengenai setting perilaku dalam masyarakat merupakan hasil dialog dari perilaku sebagai tindakan dan desain sebagai artifak kebudayaan. Sebagai contoh gambaran hubungan antara kebudayaan dengan arsitektur adalah perkembangan gaya dalam dunia arsitektur itu sendiri.

Melihat kehidupan manusia keseluruhan, maka usaha manusia di dalam pemenuhan kebutuhan hidupnya merupakan faktor utama dalam menjaga kelangsungan hidupnya. Kebutuhan hidup manusia adalah sandang, pangan, ruang hidup atau pemukiman, pendidikan, dan kesehatan. Dari unsur tersebut, ruang memegang peranan yang penting. Ruang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia baik secara psikologi emosiaonal (Persepsi), maupun dimensional. Manusia berada dalam ruang, bergerak serta menghayati, berfikir dan juga menciptakan ruang untuk menyatakan bentuk dunianya. Ciptaan yang artistic disebut Ruang Arsitektur. Ruang Arsitektur ini menyangkut interaksi ruang dalam dan ruang luar, yang memerlukan penataan yang lebih lanjut.

ARSITEKTUR ADALAH WUJUD FISIK DARI KEBUDAYAAN

Kebudayaan fisik merupakan wujud hasil dalam sebuah kebudayaan. Sehingga pada wujud terakhir ini kebudayaan memiliki bentuk paling nyata diantara bentuk yang lain. Pada wujud inilah kebudayaan seringkali sudah memiliki bentuk benda, sehingga dapat dilihat, disentuh dan dirasakan. Untuk membantu memahami Arsitektur sebagai sebuah wujud kebudayaan dapat dilakukan telaah melalui kacamata di atas. Untuk itu kegiatan ber-arsitektur perlu dipahami sebagai sebuah proses, dari ideologi yang melandasi, konsep, metode dan teknik yang digunakan, hingga hasil karya.

Unsur yang akan selalu ada dalam proses penciptaan “karya arsitektur” adalah “keindahan”. Keindahan selalu menjadi latar belakang atau tuntutan dalam sebuah “karya arsitektur”. Keindahan merupakan gagasan mengenai bentuk estetika yang pada akhirnya akan diwujudkan menjadi sebuah karya fisik melalui teknik dan metode dalam arsitektur. Dalam hal ini bentuk estetika merupakan sebuah gagasan yang muncul dalam sebuah kebudayaan. Estetika merupakan wujud kedua dari kebudayaan atau merupakan wujud gagasan. Arsitektur merupakan wujud fisik yang secara nyata dapat dilihat, disentuh dan dirasakan kehadirannya dalam masyarakat. Wujud fisik ini, baik dalam skala bangunan tunggal maupun sebuah lingkungan buatan, dapat difahami sebagai sebuah artefak. Sebuah “karya arsitektur” mengkomunikasikan kondisi masyarakat di mana artefak tersebut berada. Artefak merupakan wujud akhir yang timbul akibat adanya gagasan dan tindakan dalam suatu kebudayaan, wujud fisik. Kebudayaan dalam wujud fisik merupakan bagian terluar dari lingkaran konsentris kerangka kebudayaan (Koentjaraningrat, 2005).

Ruang dan hirarki yang tergantung didalamnya merupaka bagian dari arsitektur dimana penyusunanya dipengaruhi oleh pola pikir manusia yang berupa cita rasa , budaya , dan penyelarasan dengan alam sekitarnya. Antropologi merupakan kajian bagaimana tentang pola ruang itu terbangun dan hirarki ruang terjadi, dimana arsitektur sebagai cerminan dari budaya masyarakatnya. Berikut adalah beberapa contoh kajian antropologi arsitektur yang dilihat dari proses terbentuknya akibat dari kebutuhan manusia akan penjelmaan dari kebudayaan lokal.

Arsitektur pra-Yunani kuno sangat terkait dengan kondisi bangsa Yunani yang kaya dengan mitologi dan seni. Hal ini nampak dari fungsi dan bentuk bangunan utama sebagai bagian dari ritual pemujaan. Ideologi kebudayaan masyarakat pra-Yunani kuno tersebut menjadi dasar terbentuknya konsep nilai ke-estetika-an pada saat itu terfokus pada terciptanya bangunan-bangunan megah dan besar sebagai upaya mendekatkan manusia terhadap mitos dewa-dewi alam semesta (Fletcher, 2004).

Secara umum zaman modern sendiri merupakan masa di mana seluruh cabang ilmu berkembang dengan sangat pesat. Penemuan mesin, revolusi Industri dan penemuan material baru menimbulkan berbagai perubahan dalam masyarakat secara cepat. Sehingga perkembangan ilmu-ilmu tersebut juga memunculkan berbagai gaya dan aliran dalam dunia arsitektur sendiri. Minimalisme, fungsionalisme, industrialisme, konstruktifisme dan rasionalisme merupakan gambaran adanya berbagai gaya arsitektur yang muncul pada zaman modern ini. Meski terdapat berbagai macam gaya arsitektur, kondisi kebudayaan masyarakatnya yang terbentuk tetap dalam koridor ideologi yang cenderung humanis, monoton dan rasionalis akibat perkembangan ilmu itu sendiri. Zaman post-modern secara garis besar berusaha lepas dari batasan-batasan ketat yang ada pada zaman modern. Dekonstruksi, simbiosisme, eklektisisme, feminisme dan hibridisme memberi gagasan pada kebebasan dan kemajemukan. Meski diwarnai oleh berbagai nama gaya atau aliran, ternyata semua tetap merujuk pada pembebasan manusia yang pada era modern terbelenggu ketat oleh struktur-struktur konsensus dan makna tunggal. Pada era post-modern ini filsafat strukturalisme hingga poststrukturalisme menjadi landasan ideologis nilainilai budaya masyarakatnya (Ikhwanuddin, 2005).

Telaah Antropologi Arsitektur sebagai sebuah wujud kebudayaan dapat dilakukan melalui keempat wujud kebudayaan, yakni: nilai nilai budaya, sistem budaya, sistem sosial, dan kebudayaan fisik. Karya arsitektur sebagai sebuah wujud kebudayaan yang secara nyata dapat dilihat, disentuh, dan dirasakan dapat dipahami sebagai sebuah artefak. Artefak merupakan wujud akhir yang timbul akibat adanya gagasan dan tindakan dalam suatu kebudayaan (wujud fisiknya). Perbedaan gaya dalam karya arsitektur yang terjadi antar daerah dan waktu disebabkan karena adanya perbedaan rumusan bentuk estetika masing-masing. Perbedaan dalam rumusan bentuk estetika, sekaligus akan menggambarkan kondisi pengalaman yang diterima oleh masyarakat.